Bola Online Review Kinerja Brendan Rodgers

Review Kinerja Brendan Rodgers

Review Kinerja Brendan Rodgers

Bola Online – Manajer Liverpool Brendan Rodgers harus sekali lagi bermimpi untuk membawa Liverpool kembali bermain di Liga Champions. Rodgers setidaknya telah melangkah maju dengan membuat investasi pada beberapa pemain baru, sebagai penambahan atas pembelian yang ekselen di bulan Januari. Di artikel ini kita akan melihat musim pertama Rodgers di Anfield dan dibandingkan dengan musim terakhirnya di Swansea. Apakah gaya tiki-taka yang diciptakannya membuat Liverpool berkembang? Disisi mana yang membutuhkan penguatan?

Dalam statistic yang dimiliki Rodgers, tim Liverpool racikannya kebobolan 8 gol lebih sedikit daripada Swansea yang dipimpinnya musim 2011/2012. Selain itu, menit per defensive error juga sangat berbeda. Liverpool membuat error defensive tiap 1,11 pertandingan, sementara Swansea membuat error di pertahanan tiap 5,71 pertandingan – mungkin jumlah kesalahan yang dilakukan oleh bek Liverpool begitu banyak karena mereka baru beradaptasi dengan sistem yang sangat berbeda. Defensive error didefinisikan sebagai kesalahan yang dilakukan pemain belakang saat mengumpan rekan setim. Swansea bermain dengan rataan umpan 30 lebih banyak daripada Liverpool. Ini membuat kita memahami fakta bahwa presentasi umpan kedua tim tak berbeda jauh, mungkin yang membedakan antara keduanya adalah presentasi umpan silang Liverpool yang lebih banyak daripada Swansea.

Total pelyuang yang dikreasikan memiliki selisih 191 dengan rata-rata 50,2 peluang tiap pertandingan. Kita dapat melihat bahwa kedua tim ini juga memiliki presentasi konversi peluang hampir sama. Kendati demikian Liverpool mencetak 38 peluang lebih banyak dari the swans dibawah manajer yang sama. Sebanyak satu musim penuh Liverpool mencetak 27 gol lebih banyak, jumlah yang menggambarkan perbedaan kualitas serang di kedua tim. Tapi hal yang sama dari tim-tim yang diasuh Brendan Rodgers adalah pada konversi peluang bersih dan akurasi umpan silang.

Secara umum, fair untuk mengatakan bahwa inilah gaya racikan tim Rodgers, meskipun di Liverpool dia memiliki kualitas dan kedalaman skuad yang lebih memadai daripada Swansea. Lantas bagaimana dampak tiki-taka yang dibawa Rodgers? Seperti yang kita lihat dari Barcelona, sistem tiki-taka berlandaskan penguasaan bola dan umpan pendek. Penerapan strategi ini membutuhkan pemain yang memiliki intelejensi tinggi serta pressing yang ketat di semua sudut lapangan. Sistem ini membutuhkan pemain berkemampuan teknik tinggi, dan Liverpool telah mengadopsi gaya ini dibawah Brendan Rodgers untuk meneruskan tradisi pergerakan dan umpan pendek tersebut.

Lihatlah diagram dibawah untuk melihat bagaimana gaya modern ini digunakan oleh Liverpool. Satu hal penting yang dijaga Rodgers adalah untuk menguasai bola sebanyaknya, dan menghindari bola terlalu lama dikuasai lawan. untuk menerapkan gaya ini sangat dibutuhkan pemain serang yang juga berkualitas. Bola ada di atas lapangan, jadi saat menyerang dibutuhkan pemain yang bisa melancarkan umpan disudut sempit, serta memiliki pergerakan tanpa bola dinamis. Di diagram yang menunjukkan posisi kiper, bek kanan, bek kiri, bek tengah. Rodgers sangat suka merotasi unit gelandangnya, terkadang dia bermain dengan double pivot serta satu gelandang serang didepan mereka. diagram 1 menunjukkan satu pemain bertahan dan dua gelandang serang, sedangkan diagram 2 menunjukkan dua gelandang bertahan dan satu gelandang serang. Gambar diatas menunjukkan Liverpool bermain dengan formasi 4-2-3-1 dengan gaya tiki-taka. Rodgers menggunakan Henderson sebagai pemain di kiri lapngan, sedangkan Coutinho di tengah.

Gambar diatas adalah formasi Liverpool saat menggunakan dua gelandang bertahan. Masalah Rodgers dalam menyerang dengan sistem tiki-taka di Liverpool adalah permainan di lebar lapangan. Dia membutuhkan winger yang selalu menyisir lapangan (tipe klasik) hingga dapat melebarkan wilayah pertahanan lawan. downing sebenarnya tipe pemain yang dicari, tapi dia tak memiliki kualitas yang dibutuhkan. Liverpool sangat membutuhkan winger tipe klasik karena mereka sudah memiliki terlalu banyak winger yang drop deep dan bermain umpan pendek di tengah lapangan. Coutinho adalah pemain dengan tipe tersebut. Kendati dia tampil sangat bagus semenjak pertandingan pertamanya, tapi Liverpool tak bisa bergantung pada satu pemain saja. Bila tengah lapangan sudah penuh sesak oleh pertahanan lawan, mereka perlu winger klasik yang bersedia menyisir lapangan untuk menarih perhatian bek lawan. Bek lawan yang tertarik oleh pergerakan winger klasik akan memberikan ruang kosong di pertahanan, celah inilah yang bisa dimanfaatkan oleh pemain seperti Coutinho atau Allen untuk berkreasi. Winger klasik, pemain dengan tipe tersebut yang akan dibutuhkan oleh Liverpool musim depan. Bola Online